Home > Berita > Dewie Yasin Limpo Reposisi Perempuan : Bukan Tentang Mendominasi Tetapi Untuk Kesempatan dan Peluang

Dewie Yasin Limpo Reposisi Perempuan : Bukan Tentang Mendominasi Tetapi Untuk Kesempatan dan Peluang

Kajian terhadap peran perempuan baik dibidang social, budaya, politik, bahkan hingga peran perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak lagi menjadi hal yang tabu. Anggapan laki-laki lebih berkuasa dan domarahammasyarakat di banyak bidang tidak menjadikan perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Hingga sekarang telah banyak prestasi yang diraih perempuan di segala bidang baik akademik, karir maupun dibidang politik pemerintahan.
Pencapaian posisi perempuan saat ini bukan untuk mendominasi kaum laki-laki melainkan untuk mendapatkan kesempatan dan peluang yang sama. Dengan kata lain perempuan juga bisa berprestasi dan mendapatkan posisi yang sama dengan laki-laki. Hal ini jelas sangat berlawanan dengan konsep Patriarki yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dari segala-galanya atau bisa dikatakan bahwa kaum laki-laki harus mendominasi dengan cara tidak memberi peluang kepada kaum perempuan .
Seiring perkembangan zaman posisi perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan telah memasuki era dimana mereka telah berhak untuk mendapatkan kesempatan dan peluang yang sama. Di Indonesia sejak era reformasi dapat dibuktikan bahwa perempuan telah menjadi setara dengan laki-laki bahkan menjadi kepala negara. Tahun 2001-2004 Indonesia dipimpin seorang Presiden perempuan yakni Megawati Soekarnoputri. Ini jelas menjadi pencapaian yang luar biasa bagi kau perempuan. Bahkan pejabat menteri dan anggota dewan di parlemen juga mendapatkan peluang menjadi pemimpin.
Perempuan Parlemen
Kaum perempuan menjadi bagian penting di negeri ini. Mereka memiliki potensi yang sama dengan laki-laki bahkan lebih untuk bersanding dalam bidang apapun. Hal ini melahirkan paradigma baru bahwa kesenjangan antara kaum laki-laki dan perempuan yang sangat begitu sakral sekarang sudah tidak tabu unutk diperbincangkan. Dengan semangat penyetaraan gender para wanita ingin mendapatkan kesetaraan hak baik secara pribadi maupun konstitusi. Seiring berjalanya waktu wanita berfikir bahwa gender itu bukan hanya bermakna identitas dan struktur sosial saja, melainkan lebih dari itu. Hal tersebut yang membuat wanita sekarang tidak lagi ingin dibedakan dengan laki-laki dalam dunia profesi maupun lainya.

Pasal 55 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum DPR, DPD dan DPRD menyebutkan daftar bakal calon yang disusun partai politik memuat paling sedikit 30 persen keterwakilan perempuan . Posisi peran dan aktivitas perempuan Indonesia dalam kancah politik semakin meningkat dan terus terlibat dalam pengambilan keputusan. Keberadaan mereka tidak tanyak hanya sebatas formal undang-undang saja melainkan menjadi pengampu kebijakan. Meskipun dalam jumlah keseluruhan di parlemen kaum laki-laki masih lebih banyak dibanding perempuan akan tetapi setidaknya eksistensi kinerja mereka tercerminkan secara proporsional, baik dalam fungsi legislating, budgeting, maupun controlling, dan mereka juga menjadi bagian strategis dalam pengambilan keputusan / kebijakan dan pembuatan hukum formal. Keterwakilan perempuan yang memadai setidaknya dapat memberikan, melengkapi dan menyeimbangkan visi, misi dan operasionalisasi Indonesia selanjutnya, yang objektif, namun berempati dan berkeadilan gender (tidak mendiskriminasikan salah satu jenis kelamin).

Share Button